Pada 12 Maret 2016, aku bener-bener takjub karena itu hari dimana aku dan orang tuaku pertama kalinya ke luar negeri dengan passport yang masih rapih dan belum lama jadi. Singapore menjadi negara yang ingin ku kunjungi pertama kali karena penasaran dengan negara yang luasnya hampir setara Jakarta.
Untuk pertama kalinya masuk langsung di terminal 2 Soetta yang sederhana tetapi tetap bersih dan kinclong. Bahkan pelayanannya baik. Fasilitasnya tidak buruk juga mulai dari mushola, kamar mandi, dan tempat tunggu. Ada tempat charge Hp yang lengkapAirline yang ku pilih Lion Air, jadi harus naik bus sejenis busway untuk menuju ke pesawat itu. Cuaca yang cerah dan mendukung sangat membantu dalam keselamatan dan tanpa delay yang terlalu lama (wajar sih karena penerbangan internasional)
Jam 6 sudah berada di terminal 2 (biar gak macet di Jakarta, padahal kalau pagi belum macet.. hihi). Jam setengah 9 baru lepas landas dari pesawat haha.....
Proses check in, pemeriksaan barang, hingga imigrasi lancar teruss....
Tunggu sampai ada jadwal penerbangan

Pesawatnya besar dan cukup menampung hampir 200 orang sepertinya (ga ngitung sih). Akupun mulai mengisi form imigrasi untuk di bandara Singapore nanti dan banyak berfoto dalam pesawat bahkan sebelum naik pesawat.
Sudah siap? sudah dong, wkwk. Alhamdulillah untuk pertama kalinya tidak pusing saat berada di pesawat. Bahkan, aku bisa tidur dan bangun sebentar melihat pulau Batam dan Belitung.
Oh iya, sebelum lepas landas, aku sempat melihat sekeliling bandara yang ternyata ada kampung dekat tempat lepas landas pesawat..... Aku berpikir "Apa enggak pusing ya dengerin pesawat yang jaraknya dekat dengan rumah mereka?" Yaa itulah ironisnya.
Setelah 1 jam 45 menit (harusnya mah kurang dari itu, sebenarnya karena perbedaan 1 jam dari Indonesia). Sampai di Bandara Changi, sepi, gersang, dan pohon-pohon yang jarang menjadi pemandangan yang awal dari Kehidupan di Singapore. Tapi...... tetap bersih dan kinclong dari debu. Hanya saja ada pembangunan (entah apaan) di sisi landasan pacu. Aku berpikir bahwa Singapore mirip dengan Malaysia yang banyak perkebunan sawitnya, wkwk (belum aja, nanti pikiran berubah 180 derajat bahwa Singapore yang pusatnya bukan di bandara itu). Beda Jakarta, beda Singapore. Aura metropolis Jakarta yang macet dan semrawut lebih terlihat dari atas. Kalau Singapore dari atas, you knowlah.... himpitan gedung bertingkat semua, tapi lebih tertata.
Baru sampe, foto dulu lah di pemandangan bandara yang indah ini dengan latar belakang BAGASI berjalan. Oh iya, ada LCD juga tuh. Aku lihat ternyata kehidupan Singapore siang dan malam beda jauhh..... Siangnya kerja, malamnya jalan-jalan. Ala ekspatriat bangetlah orang-orangnya juga.
Bandaranya bersih sih sih, modern, plafonnya tinggi, luas, pokoknya keren. Pelayanannya juga sangat ramah. Ada kran air yang bisa diminum juga (Bandara Soetta juga punya).
Siap-siap, berjalan cepat, menuju Skytrain gratis penghubung antar terminal. Subhanallah, canggih banget deh. Bandara Soetta the next dan pasti lebih bagus dari ini. Hanya saja Changi sudah lama memilikinya. Lihat bagian bawahnya, hampir tertutup permadani semua, wkwk. Panteslah bandara ini terbaik nomor 1 di dunia.
Setelah naik Skytrain, aku membeli aqua di Cheers (semacam Indomaret) dan kartu SingTel yang mahal tapi bisa dipake sepuasnya tanpa perlu khawatir kuota abis.
Upss gelap, disini memang kurang pencahayaan. Beda dengan yang dibelakangnya. Tidak apa apa, yang penting aksesnya dong yang mudah. Ada MRT dan Bus yang terintegrasi. MRT tinggal turun pake eskalator (pasti di Soetta bakal ada). Turun, beli tiket di vending machine yang ditemani oleh petugas bandara (lagian aku juga tidak tahu gimana makenya, karena di Commuter Line pun aku belum pernah nyoba naikin keretanya).
MRT yang supercepat, tanpa masinis, otomatis, ada peta elektronik (berlampu gitu, jadi gampang ngelihatnya kalau kita udah sampai mana), ngasih tau rutenya, penuh (panteslah, wong transportasi publik udah maju). Pintunya juga ada suaranya kalau mau nutup "Doors are closed, cit cit cit cit cit". Kalau mau sampe di suatu stasiun, suaranya "The next station, Kallang." Petugas juga tidak ada, entah kemana yak wkwk. Nextlah Bundaran HI-Lebak Bulus. MRTnya cukup mahal (kalo dirupiahin). Padahal kalau pake Dollar Singapore, Insya Allah tidak akan habis-habis.
Pembangunan dimana-mana. Walau udah maju, pembangunan di pinggiran tetap saja ada dimana-mana. Intinya sih tidak memakan lahan hijaulah. Wong sekelilingnya juga mall-mall. Fyi, walaupun ada pembangunan, tetapi tidak mengotori jalan akses masuk keluar. Debu pasti ada-lah, tapi ada aturan jangan sampai kotoran yang ada jangan berceceran di jalan. Denda ada dimana-mana bagi Singapore. Tapi, kenyamanan semakin tercipta karena kesadaran warganya.
Otw hostel Lavender. Dekat dengan Stasiun Lavender yang terhubung dengan V Hotel. Di belakangku, sepi banget. Di dekatku, ada Halte juga. Di saat Jakarta pastinya macet, di Singapore butuh keramaian.
Perjalananku di sana selalu jalan kaki karena trotoar yang bersih dan tidak terputus dari satu tempat ke tempat lain.
Tunggu cerita-cerita selanjutnya tentang Singapore khususnya tempat wisata yang aku kunjungi bersama orang tuaku.







